Perajin Lampion di Malang Kebanjiran Pesanan Jelang Imlek – detikcom

Perajin lampion di Kota Malang kebanjiran pesanan jelang perayaan tahun baru Imlek 2573. Seperti salah satu perajin lampion di Jalan Ir. H. Juanda 9A Jodipan, Kecamatan Blimbing, Kota Malang.
Berlokasi di sebuah rumah sederhana di dalam gang, sejumlah anak muda mengkreasikan pembuatan lampion aneka ragam dan warna. Lampion-lampion ini merupakan pesanan dari para pembeli yang terus meningkat menjelang peringatan Imlek.
Terlihat di salah satu rumah pengrajin lampion yang tengah mengerjakan pesanan lampion untuk warga Jakarta. Dua pekerja tampak tengah membuat motif lampion dengan membentuknya dari rotan, menjadi bentuk lampion hati dan kapsul.
Satu pekerja lainnya tengah menempelkan kain yang melapisi luar lampion. Kain berwarna merah muda itu dipilih sesuai pesanan pembeli. Tak ketinggalan ornamen – ornamen di lampion itu juga dipasang direkatkan menggunakan lem.
Lampion yang dikerjakan ini merupakan pesanan untuk menyemarakkan Imlek yang jatuh pada 1 Februari 2022 nanti. Dua bentuk lampion ini didesain berbeda warna. Lampion bentuk hati misalnya pembelinya meminta didesain dengan warna merah muda, sedangkan lampion berbentuk kapsul didominasi warna hijau.
Di tahun 2022 ini warna lampion yang digunakan menyemarakkan tahun baru Imlek memang lebih beragam. Tak hanya warna merah yang mendominasi, tetapi beragam warna lainnya seperti merah muda, hijau, hingga putih juga jadi pilihan pembeli.
Perajin lampion Ahmad Syamsuddin mengatakan pesanan lampion jelang perayaan Imlek tahun ini memang tak hanya di dominasi warna merah saja. Tetapi trennya sudah beragam warna yang dipesan pembeli dari sejumlah kota di Indonesia.
“Dulu dominan warna merah, sekarang hampir semua warna dipakai. Warna oranye, tosca, nggak dominan warna merah lebih ke dekorasi kalau yang sekarang,” kata Syamsuddin kepada wartawan, Kamis (27/1/2022).
Syamsuddin menambahkan sejak pandemi COVID-19, hampir dua tahun usahanya sepi. Bahkan saat perayaan Imlek yang biasanya ramai juga tak ada pesanan lantaran adanya pembatasan yang diterapkan oleh pemerintah.
Baru kali ini usahanya pembuatan lampion mulai menunjukkan tren kenaikan. “Dua tahun kemarin nggak ada pesanan sama sekali baru tahun ini. Ada peningkatan di Imlek tapi nggak sampai 50 persen, masih banyak ketika sebelum pandemi,” ungkapnya.
Menurutnya, peningkatan pesanan saat Imlek saat ini mencapai, 1.500 – 2.000 unit lampion. Beberapa pesanan lampion datang dari kota – kota besar di Indonesia dan luar negeri.
“Kemarin kirim ke Italia ada 1.500 lampion, itu yang ke Italia langganan mereka telepon ke kami minta dibuatkan dan dikirimkan. Kalau yang dalam negeri dari Jakarta, Surabaya, Trenggalek, dan Malang sendiri,” jelasnya.
Guna memenuhi pesanan itu Syamsuddin dibantu 10 orang temannya dari karang taruna sekitar rumahnya. Mereka mengerjakan pesanan lampion dalam waktu yang bervariasi.
“Tergantung pemesanan kemarin 1.800, ya sekitar 3 mingguan minta selesai. Dikerjakan anak 11 warga sini karang taruna. Kalau satu jam satu lampion biasanya jadi, itu untuk yang ukuran kecil. Kalau besar biasanya beda lagi,” jelasnya.
Kendati pemesanan meningkat, keuntungan yang didapat Syamsuddin justru tak banyak. Pasalnya kenaikan harga bahan baku lampion mulai dari rotan, kain, hingga tawas, mengalami kenaikan 20 – 30 persen, sehingga cukup memangkas keuntungannya.
“Satu lampion biasanya dijual Rp 30.000, kita nggak berani menaikkan lampionnya. Bahan baku semuanya naik, tapi di sini mau naikkan harga jual nggak bisa,” bebernya.

source

× Pesan Travel