5 Sentra Kreatif Malang Raya Cocok untuk Oleh-oleh – IDN Times Jawa Timur

Regional
Kategori
Event
Channels
DOWNLOAD IDN APP SEKARANG!
Malang, IDN Times – Perkembangan pariwisata yang semakin bagus di Malang Raya mendorong tumbuhnya industri kreatif. Berbagai macam unit usaha berbasis UMKM mulai bermunculan di seantero Malang Raya. Tak sedikit dari unit usaha dalam satu wilayah tersebut akhirnya menjadi sentra atau pusat. Berbagai jenis usaha yang dikembangkan pada tiap-tiap sentra nyatanya mampu menopang ekonomi masyarakat. Tak hanya makanan, berbagai sentra usaha semakin berkembang di Malang dan menjadi ikon atau bahkan oleh-oleh khas. Berikut 5 pusat sentra usaha yang ada di Malang Raya. 
Sentra pertama yang sudah sangat dikenal adalah Sentra Tempe, Sanan, Kota Malang. Sebagai salah satu kota tujuan wisata, industri UMKM di Kota Malang terus menunjukkan kemajuan. Dikenal sebagai salah satu produsen tempe dan olahan tempe paling besar di Malang Raya, Sanan terus berinovasi menghasil produk makanan keripik yang menjadi ikon Kota Malang. Setiap harinya tak kurang dari 17,5 ton kedelai diolah menjadi tempe di Sanan. Sedikitnya ada 300 perajin yang menggantungkan hidupnya pada pengolahan tempe di Sanan. Sejauh ini, tak hanya kebutuhan Kota Malang saja, sentra tempe Sanan juga banyak mengirimkan berbagai hasil olahan tempe ke berbagai wilayah di Jawa Timur.
Baca Juga: COVID-19 di MAN 2 Kota Malang Bertambah Jadi 37 Orang  
Berikutnya adalah sentra produksi keramik yang ada di Dinoyo, Kota Malang. Kawasan ini memang sangat dikenal akan keramiknya sejak era tahun 1950-an. Asal mula industri keramik di Malanh adalah dimulai pada tahun 1953 saat pembentukan Lembaga Penmyelenggara Perusahaan-Perusahaan Industri Departemen Perindustrian (LEPPIN). Awalnya masyarakat hanya memproduksi gerabah saja. Tetapi kemudian perlahan industri berkembang menjadi keramik dan pada tahun 1957, kawasan Dinoyo mulai muncul sebagai salah satu pusat industri keramik di Malang. Bahkan kini Dinoyo dikenal juga sebagai Kampung Wisata Keramik. 
Beralih ke wilayah Kabupaten Malang bagian barat atau tepatnya di Kecamatan Pujon, maka akan ditemui sentra susu sapi perah. Kawasan ini dikenal dengan sentra olahan susu sapi perahnya. Berdasar sejarahnya, peternakan sapi di Pujon sudah ada sejak tahun 1910 atau saat era kolonial. Sejak awal peternakan memang sudah difokuskan pada susu sapi. Sempat terbengkalai saat kekuasaan Belanda runtuh, pada tahun 1942, Jepang sempat meneruskan peternakan sapi di kawasan Pujon. Lalu saat Jepang runtuh, sapi-sapi tersebut kemudian dirawat oleh masyarakat sekitar. Namun, mereka saat itu tak memiliki kemampuan untuk memanfaatkan hasil susu yang didapat dari sapi-sapi yang dirawat. Hingha akhirnya pada tahun 1962 didirikanlah koperasi Sinau Andandani Ekonomi (SAE) untuk membantu masyarakat mengembangkan diri dan memaksimalkan produksi susu dan olahannya.
Dalam perjalanannya Koperasi SAE Pujon terus berkembang dan semakin dikenal. Saat ini tercatat ada sebanyak 8 ribu orang yang tergabung ke dalam Koperasi SAE dari saat awal berdiri hanya 22 orang. Kapasitas produksinya juga cukup besar yakni 80 ton per hari. 
Satu lagi sentra kerajinan yang kini mulai berkembang adalah kerajinan bambu di Turen, Kabupaten Malang. Kemunculan sentra kerajinan bambu di Turen ini tak bisa dilepaskan dari keberadaan Taman Wisata Boon Pring. Awalnya bahan baku bambu yang cukup melimpah memang taak banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Pemakaian hanya sebatas untuk hal-hal sederhana saja tanpa ada pengembangan yang lebih serius. Kemudian sekitar tahun 2013 saat Taman Wisata Boon Pring berjalan, masyarakat mulai berfikir untuk berkreasi dengan bambu. Hasilnya dalam beberapa tahun terakhir tercatat ada lebih dari 20 perajin mulai mengembangkan kerajinan berbahan baku bambu, tepatnya di Desa Sanankerto, Turen, Kabupaten Malang. 
Baca Juga: 10 Rekomendasi Wisata Malam di Malang yang Estetik, Suasananya Syahdu!
Satu lagi sentra industri kreatif yang masih tetap bertahan hingga kini adalah kerajinan cobek batu di Singosari, Kabupaten Malang. Meskipun kini mulai bermunculan inovasi alat modern yang bisa menggantikan peran cobek batu, namun nyatanya tak sedikit masyarakat yang masih tetap menggunakan cobek batu untuk membuat sambal. Hal itulah yang membuat sentra kerajinan cobek batu di Singosari ini masih tetap bertahan. Tercatat saat ini masih ada 50 orang perajin cobek batu di kawasan Desa Toyomarto, Singosari yang masih bertahan membuat peralatan masak tradisional tersebut. Tak hanya untuk Malang Raya saja, cobek buatan perajin Desa Toyomarto itu bahkan sudah melanglang buana hingga ke Bali, bahkan Kalimantan.
IDN Times Community
Stella Azasya
Stella Azasya
Izza Namira
Klara Livia
kamu sudah cukup umur belum ?

source

× Pesan Travel