4 Rangkaian Perayaan Nyepi 2022 di Bali, Melasti hingga Ngembak Geni – Kompas.com – Kompas.com

4 Rangkaian Perayaan Nyepi 2022 di Bali, Melasti hingga Ngembak Geni

KOMPAS.com – Umat Hindu akan merayakan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1944 pada Kamis (3/3/2022) mendatang. Hari Raya Nyepi memiliki makna yang berkaitan dengan kehidupan. 
Mengutip situs Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat, makna Nyepi adalah sebagai hari keheningan, mendoakan, dan menyerukan terwujudnya kedamaian. Tujuan Nyepi adalah untuk beryadnya (berkurban) mendoakan dunia guna tercapainya kedamaian di alam semesta. 
Sementara itu, Andriansyah dalam buku Kemeriahan Pesta Adat Bali (2021), menuliskan bahwa Hari Raya Nyepi dirayakan sebagai pergantian Tahun Baru Caka. Menurut penanggalan Hindu, hari raya ini jatuh pada tanggal satu (penanggal pisan) sasih kedasa (X) atau tepatnya sehari sesudah tilem kesanga (IX).
Mayoritas umat Hindu di Indonesia menetap di Bali. Tak ayal, perayaan Hari Raya Nyepi sangat terasa di Pulau Dewata tersebut.
Andriansyah menjelaskan terdapat empat rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi, meliputi Melasti, Tawur Kesanga, Hari Raya Nyepi, dan Ngembak Geni.
Baca juga:

Prosesi upacara Melasti di Pura Ulun Danu Beratan di Desa Candikuning, Kabupaten Tabanan, Bali, Senin (4/3/2019). Upacara Melasti dilaksanakan dalam rangkaian perayaan Nyepi Tahun Baru Caka 1941 yang jatuh pada tanggal 7 maret 2019KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG Prosesi upacara Melasti di Pura Ulun Danu Beratan di Desa Candikuning, Kabupaten Tabanan, Bali, Senin (4/3/2019). Upacara Melasti dilaksanakan dalam rangkaian perayaan Nyepi Tahun Baru Caka 1941 yang jatuh pada tanggal 7 maret 2019

Melasti sering disebut dengan Melis atau Mekiis. Upacara ini dilakukan pada pengelong 13 sasih kesanga.
Pada upacara Melasti ini, dilakukan penyucian atau pembersihan segala sarana dan prasarana sembahyang umat Hindu. Alat-alat atau sarana sembahyang yang dibersihkan, antara lain pratima dan pralingga.
Selanjutnya, sarana sembahyang tersebut diusung ke tempat pembersihan, seperti laut atau sumber mata air lain yang dianggap suci. Tujuan dari upacara ini adalah untuk memohon tirtha amerta yang merupakan air pembersih dari Sang Hyang Widhi.
Dikutip dari Kompas.com, Selasa (24/3/2020), benda sakral di tempat ibadah Hindu tersebut, diarak keliling desa guna menyucikan desa tersebut. Pelaksaaan Upacara Melasti dilengkapi dengan berbagai sesaji sebagai simbol Trimurti, atau tiga dewa dalam Agama Hindu meliputi Dewa Wisnu, Dewa Siwa, dan Dewa Brahma, serta Jumpana, singgasana Dewa Brahma.
Sementara itu, Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat menjelaskan bahwa upacara Melasti merupakan awal dari rangkaian upacara Hari Raya Nyepi.
Upacara Melasti memiliki pesan spiritual agar manusia kembali membersihkan dan menyucikan dirinya, sehingga memiliki kesiapan baik sekala dan niskala, atau jasmani dan rohani, dalam menyambut hari saat ia harus menelisik diri.
Baca juga: Libur Panjang Isra Miraj dan Nyepi, Okupansi Hotel di DIY Akhirnya Naik

Perayaan menjelang Nyepi masyarakat Bali pemeluk Hindu, pada Tahun Saka 1932, tanggal 15 Maret 2010, di Monas, Jakarta Pusat.KOMPAS/WINDORO ADI Perayaan menjelang Nyepi masyarakat Bali pemeluk Hindu, pada Tahun Saka 1932, tanggal 15 Maret 2010, di Monas, Jakarta Pusat.

Andriansyah dalam bukunya menjelaskan bahwa Tawur Kesanga dirayakan sehari sebelum pelaksanaan Hari Raya Nyepi. Pada upacara ini, dilakukan persembahan kepada para bhuta berupa caru atau semacam sesaji. 
Caru ini dipersembahkan agar para bhuta tidak menurunkan sifatnya pada pelaksanaan Hari Raya Nyepi. Hal ini juga diberikan untuk menghilangkan unsur-unsur jahat dari diri manusia sehingga tidak mengikuti pada tahun berikutnya.
Upacara Tawur Kesanga juga sering disebut dengan upacara pecaruan dan tergolong upacara bhuta yadnya.
Dilaporkan Kompas.com, Selasa (24/3/2022), Tawur Kesanga atau Mecaru identik dengan pawai festival ogoh-ogoh. Pawai tersebut umumnya dilaksanakan di daerah Kuta, Bali.
Baca juga: Simak Fakta Menarik Seputar Nyepi di Bali Saat Pandemi Covid-19
Ogoh-ogoh yang melambangkan bhuta digambarkan dengan boneka raksasa terbuat dari bubur kertas dan rangka bambu. Ogoh-ogoh merupakan representatif dari sifat buruk atau jahat manusia, maka bentuknya rata-rata menyeramkan.
Pada akhir pawai, ogoh-ogoh akan dibakar sebagai lambang pembersihan sifat jahat manusia yang dilenyapkan dalam ritual Hari Raya Nyepi. Festival ini kerap menyedot perhatian wisatawan, bahkan mereka bisa turut serta mengarak ogoh-ogoh.
Tahun ini, belum ada kepastian mengenai pawai ogoh-ogoh tersebut berkaitan dengan kondisi pandemi Covid-19.
Berdasarkan informasi Kompas.com, Selasa (15/2/2022), Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali resmi meniadakan pawai ogoh-ogoh pada Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1944 karena kasus Covid-19 di Bali masih terus melonjak.
Namun, Gubernur Bali Wayan Koster mengizinkan generasi muda atau yowana menggelar parade pawai ogoh-ogoh tersebut, berdasarkan informasi dari Kompas.com, Rabu (16/2/2022). 
Baca juga: Liburan di Bali Saat Nyepi? Berikut Tipsnya

Pecalang atau petugas pengamanan adat Bali memantau situasi di dekat Gereja Katolik Roh Kudus Katedral saat Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1943 di wilayah Desa Sumerta Kelod, Denpasar, Bali, Minggu (14/3/2021). Pengamanan tersebut untuk menjamin keamanan dan kelancaran umat Hindu dalam menjalani 'catur brata penyepian' dengan tidak bekerja (amati karya), tidak bepergian (amati lelungan), tidak menyalakan api (amati geni) dan tidak bersenang-senang (amati lelanguan) selama 24 jam.ANTARA FOTO/NYOMAN HENDRA WIBOWO Pecalang atau petugas pengamanan adat Bali memantau situasi di dekat Gereja Katolik Roh Kudus Katedral saat Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1943 di wilayah Desa Sumerta Kelod, Denpasar, Bali, Minggu (14/3/2021). Pengamanan tersebut untuk menjamin keamanan dan kelancaran umat Hindu dalam menjalani ‘catur brata penyepian’ dengan tidak bekerja (amati karya), tidak bepergian (amati lelungan), tidak menyalakan api (amati geni) dan tidak bersenang-senang (amati lelanguan) selama 24 jam.

Andriansyah menuliskan, Hari Raya Nyepi dirayakan umat Hindu dengan melakukan Catur Bratha Penyepian yang meliputi empat pantangan, yaitu amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak melakukan kegiatan hiburan).
Semua pantangan tersebut dilakukan untuk mengekang hawa nafsu dan segala keinginan jahat, sehingga tercapai sebuah ketenangan atau kedamaian batin.
Adapun selama Hari Raya Nyepi, wisatawan tidak boleh keluar atau berjalan jalan di wilayah Bali.
Namun, tak perlu khawatir, jika kamu menginap di hotel, biasanya pihak hotel telah menyiapkan berbagai aktivitas untuk mengisi hari kamu.
Baca juga: Rangkaian Perayaan Hari Nyepi dan Maknanya
Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat menuturkan, sehari setelah Hari Raya Nyepi dikenal sebagai Ngembak Geni atau saat aktivitas kehidupan mulai dilakukan.
Pada hari ini juga dilakukan Simakrama atau saling bersalaman meminta maaf dan memaafkan, serta saling berkunjung mengucapkan rasa terima kasih.
Andriansyah menambahkan, hari Ngembak Geni dimulai dengan sembahyang dan doa kepada Hyang Widhi untuk kebaikan pada tahun baru.
Pada hakikatnya, Hari Raya Nyepi merupakan hari pengekangan hawa nafsu dan introspeksi diri atas segala perbuatan yang dilakukan pada masa lalu.
Baca juga: Ucapan Hari Raya Nyepi, Pakai Bahasa Indonesia atau Bahasa Bali?

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!
Kunjungi kanal-kanal Sonora.id
Motivasi
Fengshui
Tips Bisnis
Kesehatan
Dapatkan informasi dan insight pilihan redaksi Kompas.com
Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.
Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.
Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

source

× Pesan Travel