15 Masjid-masjid Unik di Indonesia, Ada Bentuk Kapal – Kompas.com – Kompas.com

15 Masjid-masjid Unik di Indonesia, Ada Bentuk Kapal
KOMPAS.com – Indonesia merupakan negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam. Tak heran, banyak masjid ditemukan di Tanah Air.
Dari sekian banyak masjid tersebut, beberapa diantaranya memiliki desain bangunan yang unik. Tak hanya menjadi tempat ibadah, arsitektur yang unik itu menarik minat wisatawan untuk berkunjung.
Baca juga: 6 Fakta Masjid Istiqlal Jakarta, Masjid Terbesar di Asia Tenggara
Berikut 15 masjid unik Indonesia yang tersebar di berbagai kota:
Semua umat muslim di Indonesia tentunya mengenal Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat. Salah satu destinasi wisata religi terpopuler di Indonesia itu, merupakan salah satu situs cagar budaya yang terdaftar di Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.
Menariknya, arsitektur Masjid Istiqlal ternyata non-muslim yaitu Friedrich Silaban, seperti dikutip dari Kompas.com, Senin (22/02/2021). Friedrich adalah seorang Kristen Protestan sementara ayahnya adalah seorang pendeta.

Protokol kesehatan di Masjid Istiqlal telah diperlonggar menjelang bulan Ramadhan seiring menurunnya persebaran Covid-19 di Jakarta.kompas.com/REZA AGUSTIAN Protokol kesehatan di Masjid Istiqlal telah diperlonggar menjelang bulan Ramadhan seiring menurunnya persebaran Covid-19 di Jakarta.

Friedrich memasukkan banyak simbol yang berkaitan dengan Islam dan kemerdekaan Indonesia pada desain Masjid Istiqlal.
Kubah masjid, misalnya, berdiameter 45 meter yang melambangkan tahun kemerdekaan Indonesia yakni 1945. Selain itu, ada ayat kursi yang melingkari kubah tersebut.
Masjid Istiqlal ditopang 12 tiang, sesuai tanggal kelahiran Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada 12 Rabiul Awal 1961.
Baca juga: Masjid Raya Sumatera Barat Menang Penghargaan Internasional
Lalu, total ada lima lantai di Masjid Istiqlal yang melambangkan lima rukun Islam, jumlah salat wajib dalam sehari, dan jumlah sila dalam Pancasila.
Kemudian, terdapat menara setinggi 6.666 sentimeter di bagian luar masjid. Angka itu merupakan keseluruhan jumlah ayat dalam Al Quran.
Masjid Kubah Emas memiliki nama asli Masjid Dian Al-Mahri yang diambil dari nama pendirinya. Tak hanya tempat ibadah, Masjid Kubah Emas menjadi destinasi wisata religi bagi sejumlah umat muslim.
Mengutip Kompas.com (7/5/2021), masjid ini memiliki luas hampir 8.000 meter persegi di atas lahan seluas 70 hektar, sehingga menjadi masjid terluas di Jabodetabek.
Arsitektur masjid, seperti kebanyakan masjid di Indonesia zaman sekarang, merujuk pada arsitektur masjid-masjid di Timur Tengah.

Masjid Kubah Emas di Cinere, Limo, Depok, Jumat (29/3/2019).KOMPAS.com /CYNTHIA LOVA Masjid Kubah Emas di Cinere, Limo, Depok, Jumat (29/3/2019).

Ada lima kubah besar dan empat kubah kecil yang berdiri megah di atap masjid ini. Sesuai namanya, kubah-kubah itu dilapisi emas 24 karat setebal dua hingga tiga milimeter.
Selain di kubah, lapisan emas juga ditemukan pada relief di atas podium imam, dekorasi langit-langit masjid, dan mahkota pilar masjid.
Arsitektur Masjid Kubah Emas juga merepresentasikan filosofi Islam. Sebut saja, kubah yang berjumlah lima melambangkan rukun Islam, sedangkan enam menara menyimbolkan rukun iman.
Baca juga: 10 Masjid Terindah di Dunia yang Wajib Dikunjungi
Semua pintu di masjid berjumlah 17 yang mewakili jumlah rakaat pada shalat rawatib umat Islam. Selain itu, terdapat 33 jendela dimana terdapat tiga nama Allah (asmaul husna) pada setiap jendela, jadi totalnya ada 99 asmaul husna.
Masjid yang mampu menampung hingga 8.000 orang jemaah itu disokong oleh pilar-pilar berbahan batu granit.
Masjid ikonik ini memiliki nama resmi yakni Masjid Al-Aqsa Menarat Qudus. Mengutip situs Menara Kudus, masjid ini dibangun oleh Ja’far Shadiq, atau yang lebih dikenal dengan nama Sunan Kudus.
Berdasarkan informasi dari prasasti di atas mihrab masjid ini dibangun pada 956 hijriah, bertepatan dengan 1549 masehi sehingga usianya 473 tahun.

Masjid Menara Kudus, contoh bukti akulturasi budaya pra-Islam dan budaya Islam di Indonesia.Kemdikbud Masjid Menara Kudus, contoh bukti akulturasi budaya pra-Islam dan budaya Islam di Indonesia.

Bangunan ikonik dari masjid ini adalah bagian menara yang berada di halaman depan masjid. Menara ini terdiri atas dua bagiah, yakni bagian bawah yang disusun dari batu bata dan bagian atas berupa pavilium menyerupai pendopo menggunakan rangka kayu.
Material yang digunakan untuk bangunan menara ini bata merah seluas 100 meter persegi dan tinggi 18 meter. Di bagian bawah menara terdapat ukiran-ukiran dengan berbagai motif.
Baca juga: Desa Margorejo, Penghasil Durian di Kudus yang Kini Jadi Desa Wisata
Sedangkan di bagian atap menara tergantung sebuah bedug yang menghadap ke utara-selatan. Pintu gerbang Masjid Menara Kudus ini juga menggunakan bata merah menyerupai bangunan candi.
Selain tempat ibadah, Masjid Raya Baiturrahman menjadi sebuah ikon pariwisata terkenal di Banda Aceh. Bangunan ini juga menjadi saksi musibah gempa berkekuatan 9 skala richter yang diikuti dengan gelombang tsunami setinggi 20 meter pada 26 Desember 2004.
Mengutip situs Indonesia.go.id, pemerintah melakukan pemugaran Masjid Raya Baiturrahman, Aceh setelah diterjang tsunami.

Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh dibangun pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda Kerajaan Aceh.Kemdikbud Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh dibangun pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda Kerajaan Aceh.

Halaman depan masjid yang semula berupa hamparan rumput berganti rupa menjadi marmer putih. Namun, hamparan rumput tetap dipertahankan mengelilingi kolam di tengah halaman masjid.
Keindahan kolam masjid bertambah dengan air mancur di tengahnya. Pada halaman itu, terdapat 12 payung raksasa, masing-masing enam di sisi selatan dan enam lainnya di utara.
Baca juga: Wisata ke Taman Sari Yogyakarta, Masjid Bawah Tanah Masih Tutup
Saat dikembangkan, bentangan payung mencapai 14 meter sehingga menjadi kanopi raksasa. Bangunan masjid didominasi warna putih.
Masjid Gede Mataram Kotagede yang ada di Kota Yogyakarta merupakan salah satu masjid terua di DIY, bahkan di Nusantara.
Dilansir dari Kompas.com, Minggu (25/4/2021), masjid ini didirikan sejak raja pertama Mataram Islam, yaki Panembahan Senopati.

bagian dalam Masjid Gedhe Mataram Kotagede, dan bagian halaman Masjid Gedhe Mataram KotagedeKOMPAS.COM/WISANG SETO PANGARIBOWO bagian dalam Masjid Gedhe Mataram Kotagede, dan bagian halaman Masjid Gedhe Mataram Kotagede

Uniknya, masjid ini dikelilingi oleh pagar dengan arsitektur Hindu. Terdapat pula gapura yang seolah seperti menuju bangunan candi.
Di dekat masjid, terdapat makam raja-raja Pajang dan Mataram Islam, seperti Joko Tingkir dan Panembahan Senopati, serta Sri Sultan Hamengkubuwono II.
Baca juga: Kotagede, Lokasi Istana Pertama Mataram Islam
Ada pula kompleks pemandian, yakni Sendang Seliran yang konon dibangun sendiri oleh Panembahan Senopati.
Masjid ini juga kerap disebut sebagai masjid terapung lantaran bangunan masjid mengapung di atas laut dengan ditopang oleh ratusan tiang.
Berdasarkan informasi dari situs Pesona Indonesia Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), masjid ini dibangun pada pesisir Pantai Losari.

Masjid Terapung atau Masjid Amirul Mukminin, MakassarDok. https://direktoripariwisata.id Masjid Terapung atau Masjid Amirul Mukminin, Makassar

Fenomena masjid terapung ini cukup unik sekaligus langka di Indonesia. Saat air laut pasang, maka masjid terlihat benar-benar terapung.
Masjid Amirul Mukminin memiliki 3 lantai serta mampu menampung hingga 500 jemaah. Selain tempat ibadah, masjid ini menjadi wisata di Kota Makassar.
Baca juga: Masjid Istiqlal akan Dikembangkan Sebagai Wisata Halal
Lantai satu dan dua digunakan untuk ibadah, sementara lantai tiga bisa digunakan wisatawan untuk menikmati panorama matahari terbenam.
Keunikan Masjid Cheng Ho, Surabaya ini adalah desain bangunan masjid yang mencerminkan akulturasi dengan budaya etnis Tionghoa.
Mengutip situs Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya, nama masjid ini merupakan bentuk penghormatan pada Laksamana Cheng Ho, penjelajah dunia yang terkenal asal China.

Ilustrasi Masjid Cheng Hoo, SurabayaDok. Shutterstock Ilustrasi Masjid Cheng Hoo, Surabaya

Cheng Ho merupakan seorang Muslim yang pernah berlayar dari China hingga ke pantai Afrika. Masjid Cheng Ho, Surabaya merupakan masjid pertama di Indonesia yang menggunakan nama muslim Tionghoa.
Hal ini menjadi simbol perdamaian umat beragama. Kedatangan Laksamana Cheng Ho disambut hangat oleh penduduk sekitar karena ia menghormati wilayah yang ia singgahi.
Baca juga: Jejak Pelayaran Laksamana Cheng Ho Diluncurkan di Pantai Tong Aci
Sementara itu, pintu masjid ini menyerupai pagoda. Pada puncak pagoda terdapat relief naga serta patung singa yang terbuat dari lilin. Terdapat tulisan lafaz Allah menggunakan huruf Arab pada puncak pagoda tersebut.
Masjid Al-Akbar Surabaya (MAS) lebih dikenal dengan nama Masjid Agung Surabaya. Dibangun di atas lahan seluas 11,2 hektar, masjid ini menjadi masjid terbesar kedua di Indonesia setelah Istiqlal.
Mengutip situs Masjid Al-Akbar Surabaya, bagian ikonk masjid adalah atapnya yang terdiri dari sebuah kubah besar, serta empat kubah kecil berbentuk limasan. Kelima kubah ini merepresentasikan lima rukun Islam.

Masjid Al-Akbar, SurabayaDok. https://bappeko.surabaya.go.id Masjid Al-Akbar, Surabaya

Warna kubah terbilang unik yakni biru. Selain kubah, masjid itu juga dilengkapi sebuah menara setinggi 99 meter yang mewakili 99 nama Allah SWT (asmaul husna).
Masjid yang mampu menampung hingga 30.000 jamaah ini memiliki 90 daun pintu. Setiap pintu dibuat dari kayu jati dengan berat mencapai 250 kilogram.
Baca juga: Sejarah Masjid Agung Surakarta, Peninggalan Mataram Islam di Kota Solo
Lantai masjid berupa marmer dengan kualitas pilihan dari perbukitan di Lampung. Sedangkan, mimbar masjid khusus dipesan dan dikerjakan perajin Madura. Arsitektur Masjid Al-Akbar Surabaya adalah tim dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
Daya tarik Masjid Raya Sumatera Barat adalah arsitekturnya atap masjid tanpa kubah. Sebagai gantinya, atap masjid berbentuk segi empat, seperti dikutip dari Kompas.com (18/1/2022).
Keempat sudut atap, menjulang ke langit sehingga sekilas, bentuk atap masjid mengingatkan pada Rumah Gadang.

Unsur khas Minangkabau dalam Masjid Raya Sumatera BaratShutterstock/Ujeew Unsur khas Minangkabau dalam Masjid Raya Sumatera Barat

Namun ternyata, bentuk atap melengkung itu menggambarkan kejadian peletakan Hajar Aswad dengan menggunakan kain yang ujungnya dipegang oleh empat orang perwalian suku di kota Mekkah.
Masjid ini mengikuti tipologi arsitektur Minangkabau dengan ciri bangunan berbentuk lonjong. Selain itu, terdapat ukiran Minang dan kaligrafi pada dinding luar bangunan.
Baca juga: Rumah Gadang dan Rangkiang, Bangunan Tradisional Minangkabau
Keunikan arsitektur masjid tersebut mengantarkannya meraih penghargaan internasional Abdullatif Al Fozan Award 2021. Arsitektur di balik keunikan Masjid Raya Sumbar ini adalah Rizal Muslim.
Masjid Tiban, Malang berada dalam kompleks Pondok Pesantren Salafiah Bihaaru Bahri ‘Asali Fadlaailir Rahmah.
Berdasarkan informasi dari situs One Pesantren One Product, Dinas Koperasi dan UKM Jawa Timur, masjid ini memadukan arsitektur China, Eropa, Timur Tengah, dan Jawa.

Masjid Tiban memadukan gaya arsitektur Arab, China, dan IndiaShutterstock/SN Alfiyah Masjid Tiban memadukan gaya arsitektur Arab, China, dan India

Bangunan masjid dan pondok didominasi warna biru dan putih. Tak ayal, bangunan Masjid Tiban tampak mencolok dari pemukiman di sekitarnya.
Bangunan masjid yang menjadi satu dengan komplek pondok ini terdiri dari sepuluh lantai. Uniknya, pada lantai lima terdapat kebun binatang mini yang menjadi tempat memelihara berbagai hewan antara lain rusa, kelinci, landak dan marmut.
Baca juga: Cerita WNI Puasa di Turki Selama Pandemi, Masjid Tidak Adakan Tarawih
Sementara di lantai delapan ada kebun sayur seperti kol, kangkung, sawi, jagung, dan terong. Hasil dari kebun sayur tersebut dipakai untuk konsumsi santri dan pengurus pondok.
Pengunjung dari luar kota bisa membeli souvenir khas Masjid Tiban dan buah tangan kota Malang pada lantai tujuh dan delapan. Para santri di pondok turut serta dalam pembangunan Masjid Tiban.
Seperti namanya, masjid ini memiliki 99 kubah yang terdiri dari satu buah kubah besar dan kubah kecil berjumlah banyak. Angka 99 tersebut merepresentasikan jumlah nama Allah SWT atau Asmaul Husna.

Masjid Kubah 99 Asmaul Husna yang berlokasi di kawasan reklamasi Center Point Indonesia (CPI), Makassar bakal mulai dimanfaatkan untuk masyarakat muslim melaksanakan ibadah perdana, Sabtu besok, (12/3/2022).KOMPAS.COM/HENDRA CIPTO Masjid Kubah 99 Asmaul Husna yang berlokasi di kawasan reklamasi Center Point Indonesia (CPI), Makassar bakal mulai dimanfaatkan untuk masyarakat muslim melaksanakan ibadah perdana, Sabtu besok, (12/3/2022).

Mengutip Kompas.com (1/6/2017), arsitektur masjid unik ini adalah Gubenur Jawa Barat Ridwan Kamil. Lokasinya berada di reklamasi Pantai Losari atau Center Poin of Indonesia (CPI), Makassar.
Masjid 99 Kubah memiliki tiga area yang bisa digunakan jamaah. Meliputi, ruang shalat utama yang dapat menampung 3.880 jamaah, ruang mezzanine 1.005 jemaah, dan pelataran suci 8.190 jemaah.
Baca juga: Bandara Sultan Hasanuddin Makassar Kembali Beroperasi 24 Jam
Masjid yang mulai dibangun pada 2017 lalu itu sudah dapat digunakan oleh umat muslim. Namun, konstruksinya belum selesai 100 persen.
Jika biasanya bangunan masjid menggunakan warna netral, lain halnya dengan Masjid Raya An-Nur, Riau. Masjid yang berada di Kabupaten Bintan ini dibalut dengan warna merah muda cerah.

Masjid Raya An-Nur, Riau atau Masjid PinkDok. https://bintankab.go.id/ Masjid Raya An-Nur, Riau atau Masjid Pink

Mengutip Tribun Batam, (2/11/2020) konsep bangunan masjid mengadopsi arsitektur khas Timur Tengah. Sekilas, bangunan masjid menyerupai Taj Mahal, India.
Masjid ini memiliki satu kubah besar yang dikelilingi beberapa kubah kecil. Kubah besar tersebut terletak di bagian tengah atap masjid.
Baca juga: Desa Wisata Koto Mesjid Riau, Penghasil Olahan Ikan Patin
Selain didominasi dengan warna pink, bangunan masjid juga dihiasi dengan aksen warna emas yang elegan. Bagian dalamnya ditaburi ornamen dan ukiran kaligrafi yang artistik.
Masjid As Safinatun Najah, Semarang ini lebih dikenal dengan nama Masjid Kapal. Sesuai namanya, arsitektur masjid ini menyerupai bentuk kapal.
Mengutip Kompas.com (29/1/2018), lokasi Masjid Kapal berada di Jalan Kyai Padak, Kelurahan Podorejo, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang.

Masjid As Safinatun Najah, Semarang atau Masjid Kapaldok. http://kecngaliyan.semarangkota.go.id/ Masjid As Safinatun Najah, Semarang atau Masjid Kapal

Bangunan masjid berwana kuning kecoklatan. Di bawahnya, terdapat bangunan menyerupai galangan kapal berwarna coklat seperti kayu.
Sementara itu, di puncak masjid merupakan area terbuka yang bisa didatangi pengunjung. Tak hanya tempat ibadah, Masjid Kapal ini menjadi salah satu destinasi liburan wisatawan dari berbagai kota di sekitar Semarang.
Masjid Kapal memiliki empat lantai dengan fungsi yang berbeda. Lantai pertama digunakan sebagai ruang pertemuan.
Baca juga: Ini Masjid Tertua di Yogyakarta, Penuh Makna Filosofis dan Historis
Lantai kedua dan ketiga sebagai tempat beribadah. Sementara, lantai keempat sekaligus atap menjadi spot melihat pemandangan sekitar bagi pengunjung.
Arsitektur Masjid Al-Irsyad adalah Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Keunikan masjid ini adalah bangunan berbentuk kubus besar tanpa kubah.

Masjid Al Irsyad, Kota Baru Parahyangan, Bandung, Jawa Barat.simas.kemenag.go.id Masjid Al Irsyad, Kota Baru Parahyangan, Bandung, Jawa Barat.

Mengutip Kompas.com (23/9/2018), keempat dinding kubus tersebut mempunyai banyak lubang. Apabila dicermati, kisi-kisi dinding dengan susunan bata berlubang ini membentuk dua kalimat syahadat dalam huruf Arab.
Teknik ini menjadikan bangunan masjid tersebut sebagai sebagai kaligrafi berukuran raksasa. Hal ini yang menjadi ciri khas Masjid Al-Irsyad.
Baca juga: 15 Wisata Hits di Ciwidey Bandung, Incaran Wisatawan
Masjid yang berdiri di lahan seluas sekitar 8.000 meter persegi dan luas bangunan 970 meter persegi ini mampu menampung hingga 1.500 jemaah. Warna eksterior dan interiornya terdiri dari abu-abu, putih, dan hitam, sehingga membuatnya tampak sederhana, elegan, dan futuristik.
Masjid Jami merupakan salah satu tempat wisata religi sekaligus cagar budaya. Lokasinya berada di Jalan Pasar Usang, Kelurahan Air Tiris, Kecamatan Kampar.
Mengutip Kompas.com, (6/5/2019), keunikan dari masjid ini adalah dibangun tanpa paku, hanya menggunakan pasak.

Masjid Jami yang dibangun tanpa paku masih berdiri kokoh di Desa Tanjung Berulak, Kelurahan Air Tiris, Kecamatan Kampar, Kabupaten Kampar, Riau, Jumat(KOMPAS.com/IDON TANJUNG) Masjid Jami yang dibangun tanpa paku masih berdiri kokoh di Desa Tanjung Berulak, Kelurahan Air Tiris, Kecamatan Kampar, Kabupaten Kampar, Riau, Jumat

Meski sudah dibangun sejak 1901, masjid ini masih berdiri kokoh. Arsitektur bangunan masjid menunjukkan perpaduan budaya Melayu dan China, dengan atap tiga tingkat berbentuk limas.
Seluruh bangunannya terbuat dari kayu, termasuk atapnya juga kayu. Namun, sekarang atap itu sudah diganti dengan seng.
Baca juga: Unik, 5 Masjid dengan Arsitektur Tionghoa di Indonesia
Setiap dinding masjid terdapat ukiran yang memiliki makna. Terdapat 40 tiang di dalam Masjid Jami’ yang melambangkan jumlah jamaah minimal dalam sholat Jumat yakni 40 orang.
Pendiri Masjid Jami’ adalah Datuok Ongku Mudo Songkal, sedangkan arsiteknya adalah H. Burhanuddin.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!
Kunjungi kanal-kanal Sonora.id
Motivasi
Fengshui
Tips Bisnis
Kesehatan
Dapatkan informasi dan insight pilihan redaksi Kompas.com
Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.
Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.
Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

source

× Pesan Travel